banner 728x250

Dari Emosi ke Pemahaman: Perjalanan Saya Melihat Keyakinan dengan Cara Baru

banner 120x600
banner 468x60

KitaToday.com – Dulu waktu saya masih beragama, saya termasuk orang yang gampang emosian. Kalau ada yang menghina agama saya, rasanya langsung panas, bahkan sampai muncul pikiran kasar seperti ingin melukai orang itu.

Waktu itu saya benar-benar merasa sedang membela sesuatu yang paling benar dalam hidup saya.

banner 325x300

Saya ingat pernah ada seseorang yang mengaku ateis bilang ke saya, “Ngapain sih kamu ke masjid, nyembah bangunan kosong? Itu kan buatan manusia.” Kata-kata itu langsung bikin emosi saya meledak. Rasanya seperti harga diri saya diinjak-injak. Saat itu, saya tidak mau dengar penjelasan apa pun, yang ada di kepala saya cuma satu: orang ini harus di tangkap dan digebukin.

Tapi setelah melewati berbagai pengalaman hidup, pelan-pelan cara pandang saya mulai berubah total. Saya mulai merenung, mulai bertanya ke diri sendiri, dan mencoba melihat dari sudut pandang lain. Ternyata, sebagian dari apa yang dulu saya anggap sebagai hinaan, justru ada sisi yang bisa dipikirkan secara lebih tenang.

Saya mulai sadar, kadang manusia memang bisa terlalu larut dalam keyakinannya sendiri sampai sulit menerima perbedaan. Kita bisa begitu yakin dengan sesuatu yang kita pelajari sejak kecil, tanpa pernah benar-benar mempertanyakannya. Dan ketika ada yang menantang, reaksi pertama kita adalah marah, bukan mencoba memahami.

Sekarang saya melihatnya lebih sederhana: setiap orang punya cara masing-masing dalam memahami hidup. Ada yang memilih percaya, ada yang memilih tidak. Dulu saya terlalu cepat menghakimi, sekarang saya lebih memilih untuk menerima bahwa tidak semua orang harus punya pandangan yang sama.

Yang paling terasa berubah adalah emosi saya. Dulu sedikit saja tersinggung langsung meledak, sekarang saya lebih bisa menahan diri. Bukan karena saya setuju dengan semua pendapat orang lain, tapi karena saya sadar, marah berlebihan juga tidak membawa apa-apa selain penyesalan.

Pada akhirnya, perjalanan hidup mengajarkan saya satu hal: memahami itu jauh lebih sulit daripada sekadar membenci. Tapi justru di situlah kedewasaan mulai terbentuk.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan