TULUNGAGUNG, KitaToday.com – Satu minggu pasca-perayaan Idul Fitri 1447 H, umat Islam, khususnya masyarakat Jawa, menyambut tradisi Lebaran Ketupat. Momen sakral yang penuh makna ini tidak hanya menjadi perayaan syukur, melainkan juga ajang refleksi spiritual dan sosial yang mendalam.
Dalam suasana silaturahmi yang bersahaja, Pimpinan Majlis Dzikir Sholawat Al Fatih, Gus Edi Al Ghoibi, sabtu (28/3/2026), membagikan petuah kepada para tamu yang hadir. Sembari mencicipi hidangan yang disuguhkan, beliau menguraikan filosofi di balik Kupat dan Lepet—dua sajian yang selalu berdampingan dan tak terpisahkan dalam tradisi masyarakat Jawa.
Gus Edi menjelaskan bahwa Kupat dan Lepet memiliki keterkaitan pesan yang sangat erat. Kupat merupakan simbolisasi dari ngaku lepat (mengakui kesalahan), sedangkan Lepet bermakna nyileb sing rapet (mengubur atau menutup kesalahan dengan rapat).
Lebih lanjut, beliau menjabarkan empat nilai filosofis luhur dari tradisi kuliner tersebut.
Menurut Gus Edi,” Filosofi Silep Kang Rapet, diambil dari peribahasa “monggo dipun silep engkang rapet” ( mari kita kubur/tutup yang rapat ).
Setelah seseorang mengakui kesalahannya (melalui simbol Kupat), Lepet hadir sebagai komitmen untuk menutup rapat kesalahan tersebut, tidak mengulanginya di masa depan, dan senantiasa menjaga aib sesama, tuturnya,
Kupat & Lepet juga menjadi Simbol Eratnya Persaudaraan karena terbuat dari beras ketan, tekstur Lepet yang lengket melambangkan ikatan silaturahmi yang kuat dan susah untuk dilepaskan. Ini menjadi doa agar hubungan antarmanusia dapat kembali harmonis, rukun, dan rumaket.
Sehingga menjadi lambang Kesucian, karena hidangan ini dibungkus menggunakan janur (daun kelapa muda) yang merupakan singkatan dari “jatining nur” atau cahaya sejati. Hal ini melambangkan kesucian hati manusia yang telah kembali fitroh setelah melalui bulan Ramadhan,
Dan juga menjadi Penyatuan dan Peleburan Dosa,karena bentuknya yang diikat dan dibungkus rapat melambangkan persatuan umat serta meleburnya dosa-dosa antarmanusia setelah saling ikhlas memaafkan.imbuhnya,
Dalam petuah Gus Edi juga mengakui Kehadiran Lepet yang disajikan bersama Kupat pada momentum Lebaran Ketupat menjadi pengingat abadi bahwa manusia memang tidak luput dari salah. Namun, melalui kelapangan dada untuk meminta maaf dan memaafkan, keharmonisan dan persaudaraan akan senantiasa terjaga.pungkasnya.


















