TULUNGAGUNG, KitaToday.Com – Kebijakan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang secara mendadak menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) varian menu kering kini berbuah simalakama. Alih-alih menjadi angin segar bagi ekonomi rakyat, keputusan ini justru memicu efek domino yang menghancurkan ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor produksi roti, Minggu 19/4/2026.
Berdasarkan investigasi di lapangan, ratusan pengusaha roti kini berada di titik nadir. Banyak dari mereka yang terancam gulung tikar setelah infrastruktur produksi yang mereka siapkan khusus untuk menyuplai program ini menjadi tak terpakai.
Kondisi kian pelik karena mayoritas pengusaha telah mengambil langkah berisiko dengan meminjam modal dari perbankan untuk meningkatkan kapasitas produksi demi memenuhi standar program pemerintah. Kini, dengan dihentikannya menu kering, para pengusaha terjerat utang tanpa ada kepastian pemasukan.
Endang, salah satu pemilik perusahaan roti yang terdampak, menyuarakan kekecewaannya terhadap inkonsistensi kebijakan ini. Menurutnya, para pengusaha tidak menuntut seluruh hari diisi oleh produk mereka, melainkan hanya meminta sedikit ruang untuk bertahan hidup.
”Kami sangat mengeluhkan kebijakan ini. Padahal, kami hanya berharap diberi kesempatan untuk mengisi menu kering setidaknya satu kali saja dalam seminggu. Itu sudah cukup untuk menyambung napas usaha dan membayar cicilan bank,” ujar Endang dengan nada getir.
Kebijakan ini juga memancing reaksi keras dari tokoh masyarakat. Gus Edi Al Ghoibi, Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Al Ghoibi, menyayangkan langkah pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada pemberdayaan UMKM lokal.
Gus Edi bahkan melontarkan kritik pedas terkait transparansi anggaran dalam perubahan skema menu ini. Beliau menengarai adanya anomali dalam penilaian efisiensi anggaran.
”Sangat disayangkan kebijakan ini diambil tanpa memikirkan dampaknya bagi rakyat kecil. Justru jika kita bicara soal transparansi, menu basah jauh lebih rentan terhadap praktik mark-up dibandingkan menu kering. Mematikan menu kering sama saja dengan mematikan mata pencaharian ratusan pengusaha roti yang sudah berjuang meningkatkan kualitasnya,” tegas Gus Edi.
Dampak yang Nyata :
- Krisis Perbankan UMKM: Risiko kredit macet meningkat karena pengusaha tidak mampu membayar cicilan modal.
- Pemutusan Hubungan Kerja: Ratusan tenaga kerja di pabrik roti rumahan terancam kehilangan pekerjaan.
- Ketidakpastian Ekonomi: Kepercayaan pelaku usaha terhadap program pemerintah berada di titik terendah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait di SPPG belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan mendasar penghentian menu kering tersebut maupun solusi bagi para pelaku UMKM yang kini di ujung tanduk.
Laporan Tim Redaksi



















