Kitatoday.com – Sebanyak 15 siswa dari 100 siswa Sekolah Rakyat di kabupaten Pacitan memilih mengundurkan diri, alias keluar. Hal itu dibenarkan Khemal Pandu Pratikna ,Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan.
Kata Khemal, alasan utama siswa mundur karena tidak betah dengan sistem pembelajaran dan aturan ketat.
“Siswa SR tidak diperkenankan menggunakan handphone dan wajib tinggal di asrama 24 jam. Mungkin bagi sebagian anak terasa terkekang, sehingga mereka lebih memilih kembali ke sekolah umum,” jelas Khemal, Selasa (9/9),mengutip jawapostradarpacitan
Meski demikian, kekosongan kuota akibat pengunduran diri akan segera terisi.
Sebanyak 15 kursi yang ditinggalkan akan diisi oleh peserta didik baru dari gelombang kedua.
SR Pacitan sendiri didirikan dengan konsep berbeda dari sekolah formal.
Sistemnya menekankan pada pembentukan karakter, kemandirian, dan disiplin, sehingga membutuhkan adaptasi lebih besar bagi siswa yang masuk.
Diketahui Pacitan menjadi salah satu kabupaten di Jawa Timur yang siap menjalankan program Sekolah Rakyat sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan inklusif.
Biaya pendidikan per siswa di Sekolah Rakyat ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat .Diperkirakan mencapai 45 juta per tahun pertahun
Sebanyak 6.388 anak dari keluarga kurang mampu telah terdata sebagai calon siswa.
Mereka berasal dari keluarga kategori desil satu dan dua berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

















