banner 728x250

PEMBANGUNAN KEMBALI KRATON SURAKARTA HADININGRAT

banner 120x600
banner 468x60

Tulungagung, KitaToday.com – Kenangan memilukan itu terjadi pada hari Jumat Wage tanggal 31 Januari 1985 pukul 21.15 WIB, Sebuah pukulan yang amat berat bagi Karaton Surakarta Hadiningrat terutama Susuhunan Pakubuwana XII sebagai Penguasa Kraton Surakarta pada masa itu. Delapan bangunan utama kraton Surakarta Hadiningrat habis terbakar, diantaranya Ndalem Ageng Prabasuyasa, Paringgitan, Sasana Parasdya, Sasana Sewaka, Bangsal Paningrat, Bangsal Malige, Sasana Handrawina, dan Ndalem Paku Buwanan dan Sanggar Singan luluh rata dengan tanah. Berbagai upaya untuk memadamkan api telah dilakukan, termasuk menabuh Kempul Pusaka Kanjeng Kyai Becak, namun tidak satupun berhasil menghalau kobaran api. Susuhunan Paku Buwana XII kemudian nekat menembus kobaran api dan memasuki ndalem Ageng Prabasuyasa bersama beberapa putra, sentono, dan abdi dalem guna menyelamatkan pusaka – pusaka kraton dan barang barang berharga lainnya” ( Jejak Sejarah Mataram )

Sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan Negara RI,
Presiden Soeharto memimpin rapat panitia pembangunan kembali Kraton Surakarta yang terbakar pada 5 Februari 1985 di Bina Graha. Beliau mendukung penuh pelestarian budaya ini, bahkan menyumbangkan 50% dari gajinya selama lima bulan untuk mempercepat pemugaran kraton, yang dianggap sebagai pusat kebudayaan nasional.
Waktu Rapat: 5 Februari 1985.
Lokasi: Bina Graha.
Konteks: Membahas pembangunan kembali setelah kebakaran hebat.
Dukungan Soeharto: Selain memimpin rapat, Soeharto memberikan sumbangan pribadi sebesar 50% gaji selama 5 bulan untuk pemugaran.
Panitia pembangunan ini melibatkan Menteri Koordinator Bidang Polkam, Surono, dan menteri lainnya.

banner 325x300

Pembangunan kembali selesai pada tanggal 17 Desember 1987.

Petikan tulisan Bapak Ir Sri Adhyaksa :

Atas musibah ini, Presiden Soeharto menugaskan Jend. Surono untuk membangun kembali bangunan yang terbakar.
Jend. Surono lalu membentuk Panitia Swasta Pembangunan Kembali Karaton Surakarta.
Panitia beranggotakan dari Unsur Markas Besar TNI AD, Departemen PU, Pihak Kraton Surakarta dan Pihak Swasta
Pergumulan Panitia saat itu ketika harus memilih apakah membangun kembali dengan metoda konstruksi beton dan baja yang lebih cepat, atau menggunakan konstruksi kayu jati sesuai kaidah bangunan tradisionil seperti aslinya.
Namun, karena bangunan ini bersejarah dan menjadi rujukan studi konstruksi tradisionil diwaktu yang akan datang, maka diputuskan tetap menggunakan konstruksi tradisionil kayu jati asli.
Beruntung pada saat itu Sasana Pustaka Kraton Surakarta baru saja menyelesaikan alih aksara Serat Kawruh Kalang dan Kawruh Kalang (tentang tata cara membangun bangunan Jawa) dari aksara Jawa ke huruf latin tetapi bahasanya tetap Jawa kuno, oleh Dra. Sri Sulistyawati (Lies Andis) dan Dra. Endang Tri Winarni.

Proses perencanaan rekonstruksi selanjutnya berdasarkan sisa bangunan yang masih ada yaitu umpak batu yang masih berada ditempatnya, Kawruh Kalang, meterial dan bentuk bangunan pembanding lainnya, foto² lama dan petunjuk lainnya. Tak bedanya seperti kerja forensik karena bangunan sudah rata dengan tanah.

Masa konstruksinya sangat istimewa, sejak memilih material, teknik sambungan kayu sampai teknik ereksi rangkaian portal kayu sungguh sudah sangat langka didunia konstruksi.
Disamping itu, oleh karena bangunan dan kompleks Kraton dianggap sakral, tidak lupa juga selama pelaksanaan konstruksi mengikuti tata cara dan tahapan sebagaimana petunjuk dalam “Mulyakaké-ngluhuraké budaya leluhur bangsa” tulisan tangan Jend. Soedjono Hoemardani seorang tokoh spiritual, sebagai hasil laku meditasinya.

Hasil Pembangunan Kembali ini, menurut KRT. Hardjonagoro (Go Tik Swan) seorang budayawan dan sastrawan, dinilai sebagai suatu replika yg ‘cèples’ (persis) sesuai aslinya dan ‘nunggak semi’ (sebagai ganti dari yg sudah tidak ada).

Para pelaksana Kol CZi Soemarno, Ir Soewito, Lettu CZI Ir Argunadi, Ir Sri Adhyaksa, Lettu CZI Ir. Imam Sardjono, Lettu CZI Ir Bambang Irawan, Ir Ali Syaifullah dan Tim Teknis dari pelaksana konstruksi PT. PP (Pembangunan Perumahan), BUMN.

Kraton Surakarta Hadiningrat, Nopember 1986 – Desember 1987

Data asli tulisan Bapak Ir Sri Adhyaksa
Foto koleksi Bapak Ir Sri Adhyaksa

banner 325x300

Tinggalkan Balasan