TULUNGAGUNG, KitaToday.com– Tren buka bersama (bukber) yang kian masif di Tulungagung kini memicu kekhawatiran serius dari tokoh agama setempat. Gus Edi Al Ghoibi, pimpinan Majlis Dzikir Sholawat Al Fatih, secara tegas menyayangkan pergeseran budaya ini yang dinilai mulai mengikis esensi utama ibadah Ramadan.
Sentilan Keras Gus Edi Al Ghoibi,
Menurut Gus Edi, fenomena bukber yang tidak terkontrol telah menjebak masyarakat pada aktivitas duniawi yang melalaikan kewajiban ukhrawi. Beliau menyoroti bahwa banyak warga yang rela mengantre makanan berjam-jam, namun kehilangan momen krusial untuk bersujud.
”Sangat disayangkan jika tradisi bukber ini justru mengikis kewajiban beribadah. Jangan sampai kita mengejar kenikmatan makan sesaat, tapi mengabaikan perintah Allah. Sholat Maghrib itu waktunya pendek, dan Tarawih adalah ruhnya Ramadan. Kalau keduanya hilang karena sekadar ngobrol di meja makan, lantas apa yang tersisa dari puasa kita?” tegas Gus Edi Al Ghoibi.
Menjawab pertanyaan apakah tradisi ini bisa dikembalikan ke jalur yang benar, menurut Gus Edi,” jawapannya bisa, namun memerlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Berikut adalah strategi untuk “menyadarkan” tradisi bukber,
Re-branding Makna Bukber:
Bukber harus dikembalikan pada konsep Iftar, yaitu membatalkan puasa secukupnya, lalu mengutamakan sholat. Diskusi atau obrolan berat baru dilakukan setelah sholat dilakukan.
Peran Pengusaha Kuliner :
Restoran di Tulungagung diharapkan tidak hanya mengejar omzet, tapi juga menyediakan ruang sholat yang layak dan bersih. Memberikan jeda waktu (misal: mematikan musik saat adzan) bisa menjadi pengingat bagi pengunjung.
Dalam sebuah perkumpulan, harus ada satu orang yang berani menjadi “pengingat” untuk mengajak rekan-rekannya menuju masjid atau mushola terdekat tepat waktu.
Mengingatkan generasi muda melalui media sosial bahwa “Bukber Tanpa Sholat” adalah tren yang salah kaprah dan menghilangkan berkah dari puasa itu sendiri.
Tradisi bukber tidak perlu dihapus, karena silaturahmi adalah hal positif. Namun, seperti yang ditekankan oleh Gus Edi Al Ghoibi, manajemen waktu dan prioritas adalah kunci. Jangan sampai kemeriahan di meja makan Tulungagung menjadi alasan sepinya shaf-shaf di masjid. ( Red )


















