TULUNGAGUNG, KitaToday.com – Suasana hangat pasca-Lebaran Idulfitri 1447 H masih menyelimuti kediaman Gus Edi Al Ghoibi, Pembina Yayasan Amal Sosial dan Kemanusiaan (YASKA) Al Ghoibi. Di tengah kerumunan tamu yang silih berganti hadir, sosok tokoh kemanusiaan ini tak henti-hentinya memberikan pesan sejuk bagi umat Islam.
Ditemui awak media di kediamannya, Jl. Jatiwekas No. 12, Desa Pucangan, Kecamatan Kauman, Tulungagung pada Kamis (26/03/2026), Gus Edi menekankan bahwa silaturahmi bukan sekadar rutinitas tahunan atau tradisi yang lewat begitu saja.
Menurut Gus Edi, Idulfitri adalah garis start baru bagi hubungan antarmanusia. Ia mengingatkan bahwa jika urusan kepada Sang Pencipta sudah diikhtiarkan melalui puasa, maka urusan antar sesama harus diselesaikan dengan saling memaafkan.
- “Silaturahim dan saling memaafkan memiliki hikmah luar biasa sebagai momentum peleburan dosa antar sesama manusia. Di hadapan ampunan-Nya, tidak ada kasta. Semua sama-sama butuh dimaafkan dan memaafkan,” tutur Gus Edi dengan penuh wibawa.
Filosofi Mendalam Hari Raya Ketupat menurut Gus Edi Al Ghoibi
Menjelang perayaan Hari Raya Ketupat atau Lebaran Kupat, Gus Edi juga membedah makna filosofis di balik hidangan khas masyarakat Jawa tersebut. Baginya, ketupat adalah simbol pengakuan kesalahan secara tulus.
- Ngaku Lepat : Secara etimologi, Kupat berarti ‘ngaku lepat’ atau mengakui kesalahan.
- Laku Papat : Mencerminkan empat tindakan (Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan) yang intinya adalah berbagi, melebur dosa, dan kembali bersih.
- Anyaman Janur : Melambangkan kerumitan hidup dan kesalahan manusia yang hanya bisa terurai dengan keikhlasan hati untuk saling memaafkan.
Harapan untuk Umat
Sebagai pembina YASKA, Gus Edi berharap semangat Idulfitri ini mampu memperkuat kohesi sosial, terutama dalam aspek kemanusiaan. Beliau mengajak masyarakat untuk terus menjaga api silaturahmi agar tidak padam hanya setelah bulan Syawal berakhir.
“Mari kita jadikan momentum ini untuk membersihkan hati sebersih-bersihnya. Jangan ada sekat di antara kita, karena kemanusiaan itu melampaui segala perbedaan,” pungkasnya. ( Red )











