TULUNGAGUNG, KitaToday.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tumpuan perbaikan gizi generasi bangsa, kini tengah menjadi sorotan tajam di Kabupaten Tulungagung. Sebuah video yang memperlihatkan menu makanan di SDN 1 Tretek pada Kamis (12/3/2026) mendadak viral di jagat maya dan memicu gelombang kritik dari berbagai lapisan masyarakat.
Menu yang Memprihatinkan
Dalam video yang beredar luas tersebut, tampak paket makanan yang didistribusikan kepada para siswa hanya terdiri dari tiga jenis komponen:
1. Ayam Bacem
2. Tempe Bacem
3. Jeruk Peras
Ketiadaan unsur sayur-mayur serta variasi nutrisi yang seimbang dinilai sangat jauh dari standar “Makan Bergizi” yang dicanangkan pemerintah. Hal ini mengundang reaksi keras dari lembaga pengawas konsumen.
Reaksi Keras LPK RI
Gus Edi Al Ghoibi, Penasehat Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (LPK RI), saat dikonfirmasi oleh awak media, menyatakan keprihatinannya yang mendalam. Ia mengecam keras atas pelayanan yang dianggap meremehkan standar kesehatan anak didik.
“Ini sangat memprihatinkan. Kami mengecam keras pelayanan yang kurang layak ini. Program nasional yang besar jangan sampai dicederai oleh teknis distribusi yang asal-asalan,” tegas Gus Edi.
Senada dengan hal tersebut, Parmonangan Sirait, Ketua DPC LPK RI, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam melihat fenomena ini. LPK RI berencana untuk segera mengambil langkah advokasi.
“Kita tidak akan tinggal diam. Kami akan segera meminta klarifikasi resmi dari pihak Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG). Jika ditemukan adanya pelanggaran atau ketidaksesuaian spesifikasi menu, maka akan kami adukan ke jalur hukum. Jangan sampai ada pihak yang semena-mena dengan ‘perut’ anak-anak kita,” ujar Parmonangan dengan nada bicara tinggi.
Pihak SPPG Belum Memberikan Keterangan
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Sabrina Mahardika, Kepala Korwil SPPG Tulungagung, masih belum membuahkan hasil. Pihak terkait belum memberikan tanggapan resmi mengenai standarisasi menu yang didistribusikan di wilayah Tretek tersebut.
Publik kini menunggu transparansi dari penyelenggara program agar anggaran negara yang besar benar-benar bertransformasi menjadi gizi nyata bagi siswa, bukan sekadar hidangan ala kadarnya.
Liputan : Tim Redaksi

















